Rabu, 20 November 2013

Kritisisme Immanuel Kant

Poin pembahasan Kant terletak pada Rasio Manusia atau Akal Manusia.

Kesalahan filsafat barat adalah menelan bulat-bulat semua hal dan tidak dikritisi. Berbeda dengan filsafat Kant yang kritis dan tidak Dogmatis. Kritis disini adalah mengenai pertanyaan-pertanyaan umum seperti, apa itu akal? aa itu pengetahuan? dari mana datangnya semua itu? , dll.


Project Filosofis Kant: Kritik atas Rasio Manusia.


Kritik atas Rasio Murni



  • diterbitkan tahun 1781
  • mengkritik semua pengetahuan bersifat analitik dan bersumber dari rasio murni (membahas apa yang dimaksud dengan pengetahuan)
  • menyatakan ada pengetahun yang bersifat sintetik dan apriori
  • Resolusi Kopernikan.



Gagasan Analitik
Gagasan yang kesimpulannya sudah diketahui dari subjeknya. (hubungan mutlak antara subjek dan kesimpulan)
contoh: Pohon mangga (s) itu pohon (kesimpulan) >> pohon mangga sudah pasti pohon
            Ibu (s) itu adalah wanita (kesimpulan) >> seorang ibu sudah pasti wanita.
*kesimpulan sudah terlihat/tergambar dari subjeknya. 

Gagasan Sintetik
= a priori (ide bawaan)
hubungan yang tidak mutlak antara subjek dan kesimpulan.
contoh: pohon itu tinggi
            wanita itu sangat cantik
* pohon tidak harus tinggi dan wanita tidak semunya cantik
kesimpulan di ambil dari apa yang belum ada di dunia ini (baru/tidak mutlak). menurut Khan gagasan analitik tidak membuat kita memiliki pengetahuan baru karena semuanya sudah pasti/mutlak, sehingga harus diimbangi dengan gagasan sintetik.

Menurut Khan ada tiga macam rasio:


  1. Rasio Murni (mengetahui) : memperjelas pengetahua kita / asal pengetahuan kita.
  2. Rasio Praktis ( melakukan) : memperjelas apa yang mendorong kita mempunyai keinginan/melakukan ini dan itu. 
Rasio praktis memberi perintah atas semua tindakan kita, yang sama untuk semua manusia tanpa terkecuali
Imperatif Kategoris: semua yang dilakukan bisa mnjadi hukum universal. 
contoh: jika kita meminjam barang dan tidak mengembalikannya itu menjadi sah dan diperbolehkan asalkan semua orang melakukan hal yang sama (universal).
     3. Rasio Pertimbangan (merasakan): menjelaskan apa yang kita rasakan.
        (contoh: alasan mengapa kita senang jika melihat hal-hal yang indah.)


Ada perbedaan antara rasa senang yang datang dari keindahan dan yang ditimbulkan dari hal lain. Rasa senang itu datang dari:


  1. The Agreeable: datang dari hal yang sifatnya fisik : contoh > rasa senang saat menyantap makanan yang enak.
  2. The Good: datang dari hal yang sifatnya mental: contoh > rasa senang saat bertemu orang yang ramah.
  3. Beauty (keindahan) : berbeda dari agreeble dan good. Keindahan lebih dari kedua hal tersebut. Keindahan mempunyai beberapa aspek. yaitu:
  • Kualitas : tanpa pamrih. Mengambil sika serta pertimbangan atas nilai yang melekat pada bendanatau karya seni itu sendiri, dan tidak tergantung pada moralitas, manfaat, keuntungan pribadi atau kepuasan inderawi. 
  • Kuantitas: Universal. Seni itu memiliki sisi subjektif akan tetapi terlepas dari kepentingan diri sendiri sehingga berpeluang mendapatkan kesepaktan dengan orang lain.
* Dalam seni, pertimbangan tidak bersifat objektif universal seperti yang berlaku     dalam ilmu alam atau sains, melainkan bersifat subjektif universal. Artinya, semua   orang setuju bahwa sesuatu itu indah bukan karena harus setelah terbukti lewat     argumen objektif seperti dalam kebenaran ilmiah, tetapi setuju karena terdorong   untuk setuju berkat pertimbangan estetis.
  • Relasi (purposiveness without purpose) : semua yang ada mempunyai tujuan akhir. Tujuan benda-benda yang indah tidak harus dihubungkan dengan benda tersebut/fisiknya. (tada tapi tidak jelas fungsinya). Seni tidak perlu fungsional. Tujuan akhir tidak terlalu jelas. 
  • Modalitas (keniscayaan) : Bukan berarti mutlak. Kalau memang suatu benda indah, niscaya semua orang setuju / mempunyai pertimbangan atau penilaian yang sama dari orang lain.
Beauty / keindahan membuat kita merasa suka tanpa alasan tertentu.



Yang Sublime (The Sublime)
Rasa senang yang membuat kita keluar dari rasio-rasio yang ada.

Indah = masih masuk akal / rasio
Sublim = keluar dari batasan rasio, nyaris tidak masuk akal.


Menurut Kant, yang sublim haruslah:


  1. Yang besar/agung, sehingga nyaris tidak masuk akal. Contohnya adalah Tembok China, Sphinx, Piramida, etc. Hal ini dinamakan Kesubliman Matematis.
  2. Yang mampu mengundang imajinasi kita. Misalnya saat melihat jurang yang dalam, kita merasa ngeri dan membayangkan bagaimana jika kita terjatuh dari sana. Hal ini dinamakan Kesubliman Dinamis.

Bagaimana cara membedakan keindahan dengan yang sublim?

Jika berhadapan dengan yang sublim, orang akan mengalami rasa kagum dan gentar. Rasa puas yang ditimbulkan berbeda, karena keindahan menimbulkan rasa puas yang ceria dan ringan, sedangkan sublimitas menimbulkan rasa puas yang berat dan serius.

Keindahan menimbulkan rasa puas yang positif, sedangkan sublimitas menimbulkan rasa puas yang negatif.










-mf 117- 










Rabu, 06 November 2013

Estetika Inggris, Estetika Empirisisme

*point penting : Untuk pertama kalinya pada estetika, konsep-konsep seperti "imajinasi" dan "selera" memiliki posisi mereka tersendiri dan "keindahan" dibedakan dari yang sublim.


Empirisisme sebagai Sistem Filosofis Utama

  • Seperti rasionalisme, terfokus pada "Epistemologi" teori tentang pengetahuan
  • Menurut empirisisme, sumber pengetahuan adalah 'pengalaman inderawi" dan bukan "benak"
  • Pendekatan ini memiliki dampak langsung pada penilaian akan estetika.

Beda antara estetika Rasionalisisme dengan Empirisisme:
  • Rasionalisme: Keindahan berharga karena menjadi bagian dari kebenaran
  • Emiprisisme: Keindahan berharga kerena dapat menimbulkan rasa nikmat / pleasure.


3rd Earl of Shaftesbury (Anthony Ashley Cooper) 1671-1713

Ia menyatakan konsep tentang "Ketanpa Pamrihan"
Ketanpa pamrihan disini berarti terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi seseorang.
Seseorang bisa mengapresiasi dan menikmati keindahan tersebut tanpa rasa ingin memilikinya. (hanya  sekedar menikmati).


Hutcheson (1694-1746)

Ia menyatakan konsep tentang "Indera Internal dan Unformity in Variety"

karya terbesar : An Inquiry into the Original of Our Ideas of Beautyand Virtue (1725) and Inquiry Concerning Beauty, Order, Harmony, Design (1738)

Ia mengatakan sumber dari pleasure itu berasal setengah dari diri kita sendiri dan setengah lagi dari benda itu sendiri.

Indera internal itu seperti benak, ia tidak berbentuk.
Indera Internal / Internal Sense, tidak berbentuk tapi juga bisa merasakan seperti indera-indera lain yang kita punya (mata,telinga,dll).
Bisa dikatakan, Internal Sense merupakan kemampuan kita menerima stimulus-stimulus dari sekitar dan mencerna stimulus tesebut sehingga dapat menghasilkan rasa nikmat/pleasure (Reseptifitas).

Uniformity in Variety (sumber dari benda/fisik)
Kesatuan dalam keberagaman pada suatu benda adalah sumber rasa nikmat dari benda-benda tersebut.
Elemen-elemen berdiri sendiri tapi akan menjad satu kesatuan apabila sudah digabung atau tergabuang menjadi satu benda. 


David Hume (dipengaruhi oleh John Locke)

Ia dianggap sebagai filsuf empirisisme terpenting.

Karya terbesar: a Treatisme on Human Nature (1739)

Kontribusi: 

  1. Penjelasan bahwa pengetahuan datang dari pengalaman inderawi. (prinsip-prinsip asosiasi)
  2. Teori tentang Standar Selera
Pengalaman sifatnya subjektif, tap saat membicarakan tentang keindahan, tetap memiliki sisi ocjektifitasnya. Objektifitas ada karena adanya Standard of Taste.

Standard of Taste:
  • Kehalusan, kepekaan (delicacy)
  • pikiran sehat (good sense) : tolak ukur keindahan dibuat oleh orang uang berpikir sehat
  • terlatih (practice)
  • punya perbandingan: makin sering melihat karya seni, makan akan makin terlatih, sehingga kita bisa membandingkan mana karya yang bagus dan mana yang kurang.
  • bebas dari prasangka/bias: misalnya kita mengagumi Van Gogh dan menganggap semua karyanya paling bagus diantara yang lain (penilaian subjektif).

Hume berpendapat bahwa ide atau gagasan datang dari pengalaman atau kesan inderawi. dengan kata lain, isi pikiran manusia tergantung pada aktivitas inderawi. Menurut Hume, pikiran kita bekerja berdasarkan 3 Prinsip Pertautan Gagasan, yaitu:
  • Kemiripan: gagasan di tautkan berdasarkan adanya kemiripan antar suatu hal dengan hal lain. Misalnya baju bermotif loreng" macan yang ditautkan dengan macan yang sesungguhnya.
  • Kedekatan hubungan: benda benda yang berbeda dapat saling dihubungkan karena mempunyai kedekatan hubungan. Misalnyasaat membayangkan bioskop, pasti kita juga membayangkan adanya popcorn, loket tiket,dll. Hal ini karena benda-banda tadi dekat hubungannya sehingga bisa dikaitkan.
  • Sebab akibat: misalnya saat memikirkan cabai, kita pasti akan memikirkan pula rasa pedas yang ditimbulkan dari cabai tersebut. Atau saat membayangkan luka pasti kita dapat membayangkan rasa sakitnya pula.



Edmund Burke (1728-1797)

Ia selain filsuf juga merupakanseorang politikus. Karya terbesarnya adalah " The Philosophical Inquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and the Beautiful (1790).

Kontribusi terbesarnya adalah " Konsep tentang yang sublim yang dibedakan dari yang indah.

Yang sublim / sublime adalah segala sesuatu yang tidak cantik dan tidak indah akan tetapi tetap dapat menimbulkan daya tarik. Ada sisi menarik yang dapat menimbulkan kenikmatan (pleasure)bagi si pengamat. 








-mf 117-